Becak merupakan pantulan hidup bernilai, bermakna, dan tujuan hidup mendfasar dari wong kabur kanginan: orang tidak berumah, tidur di jalanan. Transendensi terbaca dari slebor-slebor becak pribadi mereka. Waton Urip, artinya, bukan hidup ngawur dan seenaknya sendiri melainkan berani hidup tanpa memberontak terhadap kehidupan. Banyu Mili atau Lumintu, memuat keyakinan, kendati sedikit toh rejeki bakal mengalir terus tiada henti. Tegar, menyiratkan keuletan penarik becak bertahan dalam situasi dan kondisi yang senantiasa tidak ramah. Sri Rahayu, membuktikan kesungguhan tukang becak dalam membesarkan dan melindungi anak perempua. Kendati berornamen sederhana, slebor becak bertuliskan Ningsih (dicintai setiap orang), Barokah (terberkati), Prasojo (bersahaja) ,Marem (kepuasan), Bejo (beruntung), Sami-Sami (penerimaan dan pemberian diri tanpa syarat), Gemah Ripah (subur makmur), Prihatin (bermati raga), dan Raharja (maju sesungghnya memuat harapan hidup dan motivasi para tukang becak). Slebor-slebor becak itu memuat pandangan hidup orang Jawa manggihaken kabegjan ing sak lebeting kekirangan (menemukan kebahgiaan dalam kekurangan) dan kabegjan iku tansah ana kekurangane (kebahagiaan hidup itu senantiasa tidak sempurna).

Seiring perkembangan slogan-slogan tersebut, becak-becak di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup panjang mengenai keberadaan mereka di kota-kota besar terutama di Yogyakarta. Seperti halnya Sejarawan Sartono Kartodirdjo (1981) yang mengatakan “Becak di Yogyakarta mulai muncul sebelum Perang Dunia II. Selama beberapa tahun setelah ditemukan, becak dapat diterima dengan baik sebagai alat transportasi, yaitu sebagai alat transportasi antar keresidenan dan tempat kerja di kota yang berskala medium. Banyak tenaga kerja untuk mengoperasikan becak ini. Ongkosnyapun juga relatif murah. Lebih cepat dari berjalan kaki dan relatif nyaman. Becak merupakan alat transportasi yang lebih baik dari yang ada sebelumnya untuk memecahkan masalah transportasi dengan jarak yang cukup jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Becak merupakan kontribusi yang substansial dalam memecahkan masalah transportasi dalam kota di kota yang tidak terlalu besar. Selain itu, seorang pengusaha becak di Yogyakarta mengatakan becak masuk ke Yogya melalui Semarang pada zaman penjajahan Jepang. “Becak itu pertama kali masuk asalnya dari Jepang. Mereka beredar di Semarang dan akhirnya mulai merambah ke kota-kota lain, termasuk Yogya. Diperkirakan becak hadir sekitar era 1940-an. “Becak waktu itu bannya terbuat dari karet mati dan bentuk atapnya kotak. Selain untuk mengangkut penumpang, becak juga menjadi alat angkutan untuk jenazah dengan cara didandani dengan peci dan kacamata supaya mirip penumpang. Saat itu, ambulans masih merupakan barang langka. Jumlah becak berkembang pesat pada era 1970-an, seiring dengan mulai terasanya pembangunan ekonomi di masa awal Orde Baru.. Secara umum data tentang becak relatif tetap dari tahun ke tahun. Tahun 1975 jummlah becak antara 4.712 dan 5.917 yang sama dengan data tahun 1995. Data dari DLLAJ diketahui bahwa jumla becak di Kota Yogyakarta adalah 4.515 becak dan untuk Propinsi Yogyakarta 6.379 becak.

Namun, keberadaan becak saat ini telah mulai pudar dengan makin majunya teknologi. Munculnya jenis-jenis alat transportasi yang lebih praktis, cepat, aman, dan nyaman memberikan pilihan lain kepada masyarakat. Becak makin terpojok dengan hadirnya taksi, bus kota, dan ojek. Bahkan, becak mulai dipandang sebagai pengganggu lalu lintas yang jumlahnya harus dibatasi di sejumlah kota-kota besar di indonesia seperti Jakarta.

Artikel By (punyajepe.blogspot.com)

Artikel Asli