BECAK JOGJA DAN KEHIDUPAN

posted in: seputar becak | 0
Sumber: Photojurnalist by okahamied

 

Mungkin banyak diantara kita yang tidak mengetahui bahwa Becak merupakan pantulan hidup yang bernilai, bermakna bagi para pengemudinya.  Dalam elemen-elemen yang tertera di becak, seorang pengemudi menggambarkan simbol tujuan hidup mereka yang mendasar dalam bentuk gambar dan tulisan kata bermakna yang tertera kebanyakan di bagian becak yang disebut sekbor.

Mungkin kita pernah membaca sekilas kalimat dalam bahasa jawa yang berbunyi seperti: Waton Urip,Banyu Mili, Gemah Ripah, Prasojo, dan lain-lain.

ternyata kalimat-kalimat itu bukan tanpa arti dan juga bukan asal bunyi. Ada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya seperti Waton Urip misalnya, artinya, bukan hidup ngawur dan seenaknya sendiri melainkan berani hidup tanpa memberontak terhadap kehidupan. Banyu Mili atau Lumintu, memuat keyakinan, kendati sedikit toh rejeki bakal mengalir terus tiada henti. Tegar, menyiratkan keuletan penarik becak bertahan dalam situasi dan kondisi yang senantiasa tidak ramah. Sri Rahayu, membuktikan kesungguhan tukang becak dalam membesarkan dan melindungi anak perempua. Kendati berornamen sederhana, slebor becak bertuliskan Ningsih (dicintai setiap orang), Barokah (terberkati), Prasojo (bersahaja) ,Marem (kepuasan), Bejo (beruntung), Sami-Sami (penerimaan dan pemberian diri tanpa syarat), Gemah Ripah (subur makmur), Prihatin (bermati raga), dan Raharja (maju sesungghnya memuat harapan hidup dan motivasi para tukang becak). Slebor-slebor becak itu memuat pandangan hidup orang Jawa manggihaken kabegjan ing sak lebeting kekirangan (menemukan kebahgiaan dalam kekurangan) dan kabegjan iku tansah ana kekurangane (kebahagiaan hidup itu senantiasa tidak sempurna).

 

Tulisan-tulisan yang ada di spekbor itu seakan-akan senada dengan warna kehidupan pengayuh becak, pesan dan makna. Hal tersebut seolah menggambarkan kesederhanaann ditengah hiruk pikik perkembangan zaman.

Harapan akan kelestarian becak dan keteguhan pengayuhnya seolah berbicara tentang kekuatan untuk tak menyerah pada keadaan. “Waton Urip”, mempunyai makna bukan hidup ngawur dan seenaknya sendiri, melainkan berani hidup tanpa memberontak terhadap kehidupan. Sederhana, rendah hati, namun penuh keluhuran tentang harapan dan nilai hidup sehari-hari.

Comments are closed.